Inilah Salafi Sejati

Oleh :

Syekh Abdul Bin Baz dan Haiah Kibarul Ulama

 

 

 

Muqadimah

 

Ada diantara para da’I (ustadz) dan thalibul ilmi (santri) pada hari ini yang menyangka bahwa hanya dengan mengaku atau membubuhi namanya dengan kata salafi dia sudah termasuk salafiyin.Bahkan yang lebih memprihatinkan mengira kalau dirinya menjadi ukuran bagi kesalafan orang lain.Nilai seseorang tidak diukur dengan pengakuan,namun dengan kenyataan dan perilaku dan sepak terjang serta bagian yang diperankan.Jadi banyak orang yang masih sebatas pengakuan,bukan sampai pada tingkat kenyataan.Yang lebih ironis,justru orang-orang yang menapaki jalan salafus shalih mala tidak selamat dari mereka.Dan sesungguhnya,perkara yang merupakan kekurangan mereka pada hari ini adalah adad,akhlak mulia,hati yang tulus dan baik sangka.Allah merahmati orang yang mau muhasabah terhadap dirinya.Semoga Allah menjadikan kita sebagai golongan yang selamat.Aamiin ..

 

 

Lajnah Daimah (komite tetap) untuk riset ilmiah dan fatwa telah melihat surat yang masuk kepada Mufti ‘Amm Fadhilatus Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz yang berasal dari seorang peminta fatwa,yaitu Muhammad bin Hasan Alu Dzubyan,yang dialihkan oleh sekjen Haiat Kibar Ulama –yang bernomor 3134, tertanggal 7 Rajab 1414 H- kepada Lajnah Daimah

            Penanya meminta fatwa dengan pertanyaan sebagai berikut :

 

“Kami mendengar dan mendapati orang-orang yang mengaku bahwa mereka adalah bagian dari salafiyah,sementara kesibukan mereka adalah mencela para ulama,serta menuduh mereka sebagai ahli bid’ah.Seakan-akan lisan-lisan mereka tidaklah diciptakan kecuali hanya untuk sikap seperti ini.Mereka berkata : “Kami adalah salafy.” Pertanyaannya adalah – mudah-mudahan Allah senantiasa menjaga anda-

 

            Apakah sebenaranya maksud dari salafiyah yang sesungguhnya itu?

Dan bagaimana sikap salafiyah terhadap kelompok-kelompok islam yang ada sekarang ini?”

Mudah-mudahan Allah membalas Anda,kami dengan sebaik-baik balasan.Sesunggunya Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar Doa”

 

Setelah Lajnah Daimah yang diketuai oleh Syaikh bin Baz mempelajari pertanyaan tersebut,Lajnah menjawab :

 

“Jika keadaan memang seperti apa yang telah disebutkan,maka sesunggunya mencela para ulama,dan melemparkan (tuduhan) kebid’ahan terhadap mereka serta menuduh-nuduh mereka adalah cara yang membinasakan,buka termasuk cara salaf yang terbaik dari umat ini.Sesungguhnya kesungguhan salafus shalih adalah berdakwah kepada al-kita dan as-Sunnah,dan berdakwah kepada apa-apa yang didakwahkan para sahabat, dan para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik dengan ihsan (berbuat baik) ,dengan penuh hikmah,mauizhah (nasihat) yang baik,serta berdebat dengan cara yang baik pula.Dengan disertai oleh kesungguhan jiwa untuk mengamalkan apa yang mereka dakwahkan kepada setiap hamba.Serta dengan konsisten memegang teguh apa yang telah diketahui secara pasti dari agama islam,yang berupa ajakan untuk bersatu,saling tolong menolong di atas kebenaran, menjauh dari perpecahan dan sebab-sebabnya,yang berupa saling curiga,saling benci,saling dan saling hasud,serta menahan diri dari ketergelinciran  di dalam kehormatan kaum muslimin serta melemparkan anggapan-anggapan dusta dan sebab-sebab semacamnya yang menimbulkan perpecahan kaum muslimin serta menjadikan mereka  berkelompok-kelompok  yang sebagiannya melaknat sebagian yang lain,dan sebagiannya memerangi sebagian yang lain.

 

Allah berfirman :

 

“Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah,dan janganlah kami bercerai berai,dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan,maka Allah mempersatukan hatim,lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah,orang-orang yang bersaudara ; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka,lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya.Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat Nya kepadamu,agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al Imran: 103)

 

            Dan telah valid dari Nabi salallahualaihiwasalam bahwa beliau salallahualaihiwasalam bersabda :

 

“Jangalah kalian kembali kufur setelah aku,sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain.”

 

Ayat-ayat dan hadits Nabi salallahualaihiwasalam yang mencela perpecahan beserta sebab-sebabnya sangatlah banyak.

 

            Oleh karena itulah,melindungi kehormatan kaum muslimindan menjaganya adalah termasuk  sesuatu  yang secara pasti diketahui sebagai bagian dari islam.Maka melanggarnya,dan menjerumuskan diri di dalamnya adalah diharamkan,Keharaman tersebut semakin menjadi keras saat yang dijerumuskan adalah para ulama,dan orang yang manfaatnya besar bagi kaum muslimin.Hal ini berdasarkan nash-nash dua wahyu yang mulia yang telah mengagungkan mereka.Diantaranya adalah Allah Subhanahuwataala telah mencabut mereka sebagai saksi atas katauhidan Allah Subhanahuwataala. Allah Subhanahuwataala berfirman :

            “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia,yang menegakkan keadilan.Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian).Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia,yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Imran: 18)

 

            Menjerumuskan diri berbicara tentang para ulama tanpa hak,dengan membid’ahkan mereka,menfasiqkan,mendiskriditkan,dan merendahkan mereka adalah termasuk kedzhaliman dan dosa yang teragung,dan itu termasuk diantara sebab-sebab fitnah,menghalangi mereka dari mengambil kebaikan serta petunjuk yang mereka  bawa.

 

            Ini akan mendatangkan bahaya besar terhadap penyebaran syariat yang suci,karena jika pembawa syariat ini dicela,maka itu akan berpengaruh kepada apa yang dia bawa.

 

            Maka pada sikap seperti ini terdapat penyerupaan dengan cara ahlul bid’ah yang terjerumus pada pembicaraan buruk tentang para sahabat.Sementara para sahabat Rasulullah salallahualaihiwasalam adalh saksi nabi umat ini atas syariat Allah Subhanahuwataala yang telah beliau sampaikan.Maka jika yang bersaksi disakiti (dinodai),berarti yang disaksikanpun juga disakiti (dinodai)

 

            Maka wajib atas setiap muslim adalah konsisten dengan adab-adab Islam,petunjuk dan syariatnya.Hendaknya dia menahan lisanya dari perkataan keji dan menjerumuskan diri dalam pembicaraan kehormatan para ulama,bertaubat kepada Allah dari perbuatan tersebut,serta membersihkan diri dari berbuat zhalim kepada para hamba Allah Subhanahuwataala.Akan tetapi jika sebuah kesalahan  terjadi pada diri seorang ‘alim,maka kesalahan tersebut tidaklah menghabiskan ilmu yang dimilikinya.Yang wajib pada saat mengetahui kesalahan  adalah kembali kepada ahli ilmu yang diakui kapasitas keilmuan,agama dan keshahihan I’tiqadnya.Hendaknya seseorang tidak memasrahkan dirinya kepada setiap orang  yang menghembuskan dan menjalarkan (fitnah) hingga menuntunnya kepada kehancuran dari arah yang tidak disadarinya.Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa aalihi wa shahbihi wassallam.(AR) [*]

 

Pada kasus yang sejenis,Syaikh Ibn bin Bazz berkata :

 

“Yang saya nasehakan kepada mereka,saudara-saudara yang membicarakan kehormatan para da’I dan mendzhaliminya agar mereka bertaubat kepada Allah dari apa yang mereka tulis atau mereka ucapkan,dari hal-hal yang menyebabkan rusaknya hati sebagian pemuda,dan mengisi mereka  dengan rasa benci dan dengki,menyibukkan mereka dari mencari ilmu yang bermanfaat,dari dakwah kepada Allah dengan katanya dan katanya,dan pembicaraan tentang fulan- dan fulan,serta mencari-cari apa yang mereka anggap sebagai kesalahan bagi orang lain,menjaring dan memaksa-maksa.

 

            Sebagaimana saya menasehatkan agar menebus apa yang telah mereka lakukan dengan tulisan atau lainnya yang dapt membuat diri mereka terbebas dari perbuatan ini dan menghapus dari benak orang-orang yang pernah mendengar ucapan mereka,dan hendaknya menghadap fokus pada amal-amal yang produktif yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan bermanfaat bagi para hamba.Hendaklah mereka takut untuk tergesa-gesa dalam menyebut vonis kafir atau fasiq atau bid’ah tanpa bukti nyata dan hujjah.Rasullullah salallahualaihiwasalam telah bersabda :

 

            “Barang siapa mengatakan kepada saudaranya : Wahai kafir maka kalimat itu pasti kembali kepada salah satu dari keduanya.” (HR. Bukhari-Muslim) (dipublikasikan di harian al-Syarq, sabtu: 22/6/1412) (AH)

 

 

Majalah Qiblati edisi 11 th III 08-2008/07-1429

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: